Senin, 12 Desember 2011

Kejadian Tentang Prosesi Pernikahan Putri Bungsu Keraton Yogyakarta


Cinta tak memandang kasta. Kalimat bijak tersebut berlaku pada pernikahan antara Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni atau sering disapa “Jeng Reni” dan Achmad Ubaidillah atau sering disapa “Ubai”. Jeng Reni merupakan putri bungsu Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Ubaid merupakan warga baisa dan berstatus pegawai negeri.

Pernikahan putri kraton dan rakyat biasa tersebut menjadi magnet moralitas sosial Kraton Yogyakarta. Ini dibuktikan dengan apresiasi dan simpati warga Kota Gudeg, yang memperlakukan pernikahan tersebut sebagai pesta budaya rakyat. Maka, prosesi pernikahan Jeng Reni dan Ubaid, dari Minggu Kamis (16 - 19/10) menyatu dengan pesta rakyat. Malioboro sebagai salah satu poros penghubung dengan Kraton, akan dipenuhi pesta makanan dan kesenian.

Jeng Reni merupakan putri ke lima dari Sri Sultan HB X dan GKR Hemas, lahir di Yogyakarta 18 September 1986, alumnus International Hospitality Management Institute Swiss. Seperti pernikahan kakak-kakaknya, warga Yogyakarta selalu mengapresiasi dengan penuh sukacita. Banyak pihak memperkirakan suka cita dari warga terhadap putri bungsu Sultan, melebihi perhelatan serupa pada putri-putri kraton sebelumnya. Tidak hanya nuansa budaya yang mengilhami, terselip pesan politik yang samar berkaitan perjuangan warga Yogyakarta untuk mempertahankan keistimewaan provinsi ini. Karena itu pesta rakyat di Malioboro tak lepas dari sentuhan komunitas pro-perjuangan Yogya Istimewa, yang dikoordinasi oleh Sekretariat Bersama Keistimewaan Yogyakarta.

Sang Menantu Sultan, Ubai, lahir di Jakarta pada 26 Oktober 1981. Dia merupakan warga biasa, kedua orangtua asli Lampung, karirnya sebagai PNS Badan Pertanahan (ayah ubai) dan PNS Kementerian Agama (Ibunda Ubai). Ubai juga berstatus PNS di Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dan menjabat Kasubid Komunikasi Politik Bidang Media Cetak. Pria berbadan tegap tersebut alumnus Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor dan master pemerintahan dari Institut Ilmu Pemerintah (IIP) Jakarta.

Derajat keilmuan keduanya seperti ikut menyatukan antara darah biru dan warga biasa. Kesetaraan keduanya lebih direkatkan dengan gelar kebangsaan yang secara otomatis melekat pada keluarga kesultanan. Jeng Reni menyandang gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara da Ubai menangku gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara. Gelar tersebut berdimensi militer/keprajuritan kraton. Konon, penetapan gelar memerlukan diskusi selama sebulan. Adapun prosesi pernikahan putri kraton Yogyakarta tersebut adalah :
16 Oktober : Prosesi Nyantri
17 Oktober : Siraman - Majang - Pasang Tarub
18 Oktober : Ijab - Panggih - Resepsi (NB: Kirab pukul 16.00)

Pesta Keraton dan Rakyat

Perhelatan royal wedding antara Jeng Reni dan Ubai berlangsung mulai Minggu (16/10). Calon pengantin putra menjadi santri (nyantri) atau prosesi pengantin pria masuk Kraton Yogyakarta, calon pengantin putri menjalai tradisi pernikahan kraton seperti sungkem kepada raja/orangtua, pengajian di Masjid Panepen Kraton Yogyakarta. Masjid tersebut sebagai tempat ijab qabul.

Senin (17/10), kedua calon mempelai menjalani siraman di Bangsal Sekar Kedaton, upacara tantingan atau Sri Sultan mewancarai putrinya tentang kesiapan menikah. Selasa (18/10), kedua calon mempelai melaksanakan ijab qabul di Masjid Panepen dipimpin Sri Sultan dan pertemuan kedua penganten yang disaksikan tamu khusus antara lain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono. Pesta pernikahan dilaksanaan sore hari, dimeriahka dengan kirab budaya dari Kraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan, mempelai naik kereta kencana diiringi dengan prajurit Kraton Yogyakarta. Kamis, (19/10), upacara ngabekten dan pamitan. Sri Sultan akan menyampaikan pesan-pesan dan nasihat kepada menantu dan putrinya di Bangsal Kesatriyan Kraton.

Kirab budaya manjelang pesta pernikahan di Bangsal Kepathan merupakan perpaduan pesta kraton dan rakyat. Pasangan pengantin akan diarak dari Kraton Ngayogyakarta menuju perempatan Kantor Pos Besar (Monumen Serangan Umum 1 Maret), menyusuri Jalan Malioboro. Adik kandung Sri sultan, GBPH Joyokusumo menyatakan kirab melibatkan lima kereta kuda, tiga di antaranya kereta tertutup (kaca). Da kereta tertutup dipergunakan oleh orangtua dari masing-masing pengantin. Sedangkan kedua mempelai akan menggunakan Kereta Kencana Jongwiyat yang ditarik oleh kuda. Kereta sang pengantin dikawal oleh 12 kuda yang dinaiki para penari Persan Lawung, 12 prajurit keraton (Prajurit Mantrijeron dan Wibrobrojo) yang melambaikan lambing bendera Gula Kelapa.

Pesta perikahan keraton juga menjadi pesta rakyat. Sekretariat Bersama Keistimewaan mengoordinasikan pesta rakyat mulai Senin-Rabu (16-18/10). Ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra menyatakan Kraton tak mungkin menampung semua warga yang ingin menyaksikan pernikahan di dalam kraton. Sebagai gantinya, warga bisa menonton melalui layar lebar dan ikut pesta dengan menikmati hidangan gratis. Ratusan penjual angkringan menyediakan makanan gratis bagi warga yang ikut menyaksikan pernikahan. Pesta makaan gratis dipusatkan di sekitar Monumen Serangan Oemoem 1 Maret atau di titik nol. Kemudian pesta seni rayat dari berbagai daerah di Yogyakarta dan luar kota d Jateng.

Sri Sultan HB X menyatakan pesta pernikaan putrinya bukan dari dan untk kraton saja. Momen ini jugabagian dari pesta budaya dan pesta rakyat. Dia menyampaikan terima kasih. "Prosesi pernikahan ini bisa jadi aktivitas seni budaya. Ini momen kebersamaan dan itulah kekuatan Yogyakarta," kata Sultan
di antaranya:

1. Pada 16 Oktober 2011 berlangsung prosesi Nyantri. Dalam prosesi ini diselipkan upacara  “plangkahan”. GKR Bendara yang bungsu ini musti mendahului kakak perempuan nomor empat (Sultan dan Ratu Hemas dikaruniai lima anak, semua putri) yang masih studi di luar negeri. Oleh karena itu harus ada upacara melangkahi atau plangkahan.

Kejanggalannya: Kata Mbah Dulrohim, yang sehari-hari nyepi di Parangtritis, dalam sejarah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tak boleh ada anggota kerajaan yang secara terbuka nikah terlebih dahulu dari yang lebih tua (kakak). Ini terkait soal martabat, dan Kraton sangat menjunjung tinggi martabat!. Permaklumannya, barangkali ini sudah zaman modern, jadi tak persoalan bila ada “yang muda” mendahului “yang tua” dalam pernikahan. Tetapi, ini kraton yang jadi pusat budaya adiluhung, apa iya harus kalah dengan modernisasi?

2. Pada 18 Oktober 2011, pukul 16.00 wib,  berlangsung prosesi kirab pengantin dari Kraton menuju Kepatihan.

Kejanggalannya: Biasanya kirab itu untuk anak sulung (putra mahkota) kraton. Wajar jika GKR Pembayun (putri sulung/putri mahkota) dikirab saat pernikahannya dulu. Namun untuk putri kedua dan putri ketiga, tak ada kirab saat mereka menikah. Tiba-tiba, putri bungsu ini kok dikirab? Ada apa ini?. Permaklumannya, barangkali budaya tinggi musti kompromi dengan budaya pop, sehingga tradisi kraton disisihkan saja. Maka, kirab pun dilangsungkan demi promosi wisata sekaligus menghibur rakyat Jogja yang berjejalan di sepanjang Malioboro.

Kejanggalan lain: Rute kirab dari Keraton-Kepatihan, kenapa bukan Mubeng Beteng? Semua tahu, rute ritual kraton itu ya Mubeng Beteng, bukan menelusuri Malioboro. Saat GKR Pembayun menikah, kirabnya juga Mubeng Beteng. Secara historis tradisi Mubeng Beteng berkembang sebelum Mataram-Hindu. Saat itu disebut muser atau munjer (memusat), berarti mengelilingi pusat. Dalam konteks ini mengelilingi pusat kerajaan. Sumber lain menyebutkan Mubeng Beteng justru berawal dari Kerajaan Mataram (Kotagede) saat merampungkan pembangunan benteng mengelilingi Kraton tepat satu Suro 1580. Prajurit  rutin mengelilingi (mubeng) benteng untuk menjaga Kraton. Dalam perkembangannya tugas ini dialihkan dari prajurit kepada abdi dalem, dan para abdi dalem itu bertugas dengan membisu sembari membaca doa-doa di dalam hati agar mereka diberi keselamatan.

Permaklumannya adalah melihat perkembangan situasi sekaligus konteks pariwisata. Nah, betul kan demi wisata? Kata panitia, kalau Mubeng Beteng diterapkan sekarang, itu menyita banyak waktu. Lagi pula ini bukan kirab tapi miyos dari Keraton ke Kepatihan. Tetapi, kenapa GKR Pembayun bisa Mubeng Beteng? Toh rute lebih panjang dan rakyat lebih punya tempat lebih leluasa. Ada rumor, karena ini si bungsu cukuplah rute dikasih saja Kraton-Kepatihan (Malioboro) yang lebih pendek dan nilai spiritualnya jauh di bawah Mubeng Beteng!

3. Pada 18 Oktober 2011, malam, berlangsung resepsi di Kepatihan.

Kejanggalannya: Lho kok di Kepatihan yang nota bene di luar kompleks keraton? Para sesepuh di Jogja berbisik-bisik, ketiga putri pertama resepsi di lingkungan keraton, kok yang ini malah di kepatihan (di luar keraton). Dalam sejarahnya kepatihan itu identik dengan pusat patih (namanya juga kepatihan ya?). O ya, kepatihan ini berada di Jl Malioboro yang sehari-hari jadi pusat kantor gubernur. Letaknya nyaris di ujung utara Malioboro. Ada rumor, karena mempelai pria bukan darah biru, resepsi berlangsung di luar keraton saja!.Permaklumannya, pihak keraton konon mau menghidupkan kembali tradisi yang berlangsung pada era Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Saat itu resepsi pernikahan berlangsung di Kepatihan.Itulah rumor yang beredar di kalangan sesepuh warga Jogja. Jelas tak muncul di media. Takut kuwalat sama Sultan! Tetapi, ada baiknya para ahli budaya Jawa maupun pihak Kraton mau membuka diri menjelaskan duduk persoalannya. Jangan sampai ada rumor di tengah pesta agung ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar